Monday, August 2, 2010

MASA DEPAN DITANGAN KITA

Intelektual muda merupakan aset negara, penentu masa depan yang lebih baik. Intelektual muda pengganti generasi tua nan usang, pemimpin negara di masa datang. Intelektual muda digambarkan sebagai sosok penuh energi, semangat, dan supermotivatif-kreatif untuk menciptakan pembaruan atau perubahan. Ia adalah sosok manusia yang kritis terhadap kemapanan yang menyimpang dari kebenaran.
Dibelahan bumi manapun, intelektual muda seringkali menjadi ikon dari perubahan; terlepas seperti apa bentuk perubahan tersebut. Tengok saja, bagaimana gagahnya Nabi Ibrahim.as muda yang begitu lugas menentang kebatilan yang ada di sekelilingnya. Al-Quran menceritakan : “Mereka berkata: ‘Siapakah yang melakukan (perbuatan) ini terhadap tuhan-tuhan kami? sungguh dia termasuk orang yang zalim, Mereka (yang lain) berkata: ‘Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela (berhala-berhala) ini, namanya Ibrahim.” (QS.Al-Anbiya, 21:59-60).
Begitu pula dengan para pemuda tangguh yang bersama-sama dengan Rasulullah saw melakukan perombakan terhadap tatanan jahiliyah yang ada, mereka kebanyakannya adalah pemuda yang menjadi muridnya Rasulullah saw. Sebut saja, Ali bin Abi Thalib (8 tahun), Zubair bin Awwam (8 tahun), Thalhah bin Ubaidillah (11 tahun), Al-Arqam bin Abi Arqom (12 tahun), Abdullah bin Mas’ud (14 tahun), Saad bin Abi Waqqash (17 tahun), Ja’far bin Abi Thalib (18 tahun),Zaid bin Haristah (20 tahun ), Mush’ab bin Umair (24 Tahun), Umar bin Khattab (26 tahun, juga Abu Bakar Ash-Shidiq (37 tahun) ketika awal mula tampil sebagai pembela Islam. Mereka semua adalah intelektual muda yang telah menorehkan tinta emas dalam perjuangan dan perubahan.
Melihat betapa besarnya potensi yang dimiliki oleh para intelektual muda, sampai-sampai Bung Karno pernah mengatakan : “Beri aku seribu orang, dan dengan mereka aku akan menggerakkan Gunung Semeru. Beri aku sepuluh pemuda yang membara cintanya kepada Tanah Air, dan aku akan mengguncang dunia.”
Di Indonesia sendiri pernah terjadi peristiwa-peristiwa monumental yang sempat mewarnai sepak terjang para intelektual muda dalam kancah kehidupannya. Tercatat: angkatan ‘28, kisah heroik dilakukan oleh para intelektual muda Indonesia yang ingin mempersatukan bangsanya, mereka mengeluarkan rumusan yang diberi nama ”Sumpah Pemuda”. Angkatan ‘45, bersama para sesepuhnya berhasil mengusir penjajah Belanda yang telah lama bercokol di Indonesia. Kemudian disusul angkatan 66 dimana mereka menjadi pelopor atas penggulingan komunisme. Terakhir, sebagaimana kita ketahui, angkatan ‘98 dengan begitu heroiknya sukses mengakhiri kekuasaan rezim otoriter orde baru. Lantas, apakah semua itu selesai hanya sampai disitu ?
PR Besar Intelektual Muda
Sebuah PR besar tampaknya harus kembali dipikul oleh intelektual muda saat ini. Mengapa? Salah satunya dikarenakan negeri tercinta ini ternyata belum merdeka sepenuhnya. Bagaimana tidak, meskipun penjajah belanda telah pergi namun hukum dan undang-undangnya masih tetap bercokol di negeri ini. Bagaimana bisa disebut merdeka kalau rakyat tak pernah sejahtera; kalau kekayaan alam milik rakyat dikuasai oleh para tuan menir baru baik dari kalangan bangsa sendiri maupun tuan menir asing (barat); kalau kebijakan negara tidak pernah lepas dari arahan atau intervensi pihak lain (negara-negara besar seperti AS, dkk). Lebih ironis lagi, ketika Dr.Helfferick pernah mengatakan bahwa kita ini adalah ”eine nation kuli und kuli enter den nationen”(bangsa kuli dan kulinya bangsa lain) (Meutia hatta, 2008).
Fakta menunjukkan bahwa Indonesia memang banyak memiliki lulusan sarjana dan pascasarjana, namun fakta juga menunjukan bahwa kebanyakan dari mereka pada akhirnya malah menjadi beban bagi negerinya sendiri. Kalaupun bekerja, terkadang banyak yang tidak tersalurkan sesuai dengan bidangnya. Kondisi demikian juga dialami oleh negara-negara berkembang lainnya, dimana ratusan ribu putra-putrinya yang lulus pascasarjana di berbagai bidang, seperti kedokteran, fisika, teknik, kimia, nuklir dan teknologi, telah meninggalkan negerinya. Mereka menyebar ke berbagai penjuru dunia dalam rangka mencari penghidupan. Lantas, apakah negara mereka itu miskin SDA ? Jawabnya tidak sama sekali. Justru mereka adalah negara-negara yang secara riil sangat kaya raya dengan sumber daya alam, termasuk dengan SDM-nya.
Namun sayang, potensi kekayaan alam yang berlimpah tersebut tidak dapat dikelola secara benar oleh para pengelola negerinya. Para penguasa itu mengelola kekayaan alam rakyatnya dengan memakai cara-cara kapitalistik-sekuler. Akibatnya, hal yang wajar jika para tuan menir (baca: para kapaitalis) berbondong-bondong datang untuk menguasai seluruh kekayaan alam negeri-negeri tersebut termasuk Indonesia. Tentu dengan berbagai macam bentuk, dari mulai investasi hingga privatisasi (membeli asset-aset strategis negara jajahannya). Inilah yang dikenal sebagai imperialism gaya baru yang kini mencengkram semua negeri-negeri islam.
Prof. Husein Al Atas pernah menyatakan bahwa penjajahan masa lalu lebih berwujud penjajahan politik (political imperialism), sedangkan penjajahan saat ini lebih berwajah pemikiran (intellectual imperialism). Bagi para penjajah, perubahan wujud ‘penjajahan’ tersebut menjadikan proyek penjajahan itu sendiri lebih mudah untuk dilancarkan, bahkan lebih murah, efektif, dan efisien.
Sungguh, inilah yang terjadi pada Indonesia. Melalui penjajahan pemikiran yang diciptakan oleh sistem Kapitalisme-Sekuler-Demokrasi, banyak sekali sektor-sektor kehidupan bangsa ini yang tergadaikan kepada asing dengan sangat mudah dan murahnya. Hebatnya, tidak sedikit para inteletual muda – baik yang sadar atau tidak – telah menjadi bagian dari proses neo-imperialisme tersebut. Dalam konteks penjajahan model baru inilah, kiranya sangat tepat ungkapan Vandana Shiva bahwa “Kolonialisasi lama hanya merampas tanah, sedangkan kolonialisasi baru merampas seluruh kehidupan."
Kini Indonesia membutuhkan perubahan sekali lagi dan untuk yang terakhir kali, yakni perubahan menuju Indonesia yang lebih baik. Tentu saja perubahan dengan jalan mengganti rezim dan sistem kapitalisme-sekuler dengan rezim yang amanah dan sistemnya yang mumpuni, yakni Islam.
Hanya islamlah satu-satunya tumpuan harapan terakhir kita saat ini agar negeri ini khususnya dan dunia islam umumnya, dapat bangkit dan meraih kembali tampuk kepemimpinan dunia. Sistem islamlah – sebagai dien yang paripurna – satu-satunya alternatif untuk menggantikan kepemimpinan kapitalisme-sekuler yang bobrok, destruktif dan gagal dalam memberikan kesejahtraan kepada umat manusia. Sistem islam jugalah satu-satunya pilihan akal sehat untuk menyelamatkan bangsa Indonesia, setelah gagalnya sosialisme (orde lama) dan kapitalisme-sekuler (orde baru sampai sekarang).
Di sini dan saat inilah para Intelektual muda kembali diharapkan untuk menjadi pelopor perubahan menuju tegaknya sistem islam. Hanya orang yang tidak paham akan realitas sejarah dan hatinya sudah diselimuti kedengkian terhadap Islam saja yang tidak mengakui keberhasilan Islam dalam mengatur kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Thomas W. Arnold misalnya, dalam karyanya “The Preaching of Islam,” menuliskan bagaimana perlakuan yang diterima oleh non-Muslim yang hidup di bawah pemerintahan Daulah Utsmaniyah. Dia menyatakan, “sekalipun jumlah orang Yunani lebih banyak dari jumlah orang Turki di berbagai provinsi Khilafah yang ada di bagian Eropa, toleransi keagamaan diberikan pada mereka, dan perlindungan jiwa dan harta yang mereka dapatkan membuat mereka mengakui kepemimpinan Sultan atas seluruh umat Kristen.” Itulah pengakuan yang jujur dari orang-orang barat itu sendiri.
Peran Kita Saat Ini
Peran penting dan strategis para intelektual muda muslim hari ini adalah membangkitkan negeri ini khususnya (umumnya dunia islam) dari keterpurukannya di segala bidang. Adalah menarik filosofinya Aa Gym bahwa perbaikan besar dimulai dari hal kecil, yakni dari diri sendiri dan mulai dari sekarang. Memang benar, kebangkitan negeri ini harus dimulai dari kebangkitan diri kita sendiri sebagai intelektual muda. Bukankah Alloh sendiri sudah memberikan rumus mengenai kebangkitan ini dalam firman-Nya : “sesungguhnya Alloh tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga kaum itu sendiri mengubah apa-apa yang ada didalam diri mereka.”(Qs.Ar-Ra’du (13) : 11)
Kalimat “maa bianfusihim” (apa-apa yang ada dalam diri mereka) dalam ayat tersebut tidak lain adalah pemikiran atau mafahim anil hayah (pemahaman terhadap kehidupan). Aspek pemikiran atau pemahaman inilah yang sejatinya dapat mengantarkan seseorang atau suatu kaum kepada kebangkitan. Dalam konteks ini, sangatlah tepat apa yang dinyatakan oleh syaikh Taqiyuddin An-Nabhani dalam Nizhamul Islam bahwa bangkit dan mundurnya manusia sangat dipengaruhi oleh mafhum (pemahaman)-nya. Jadi, aspek pemikiranlah yang sebenarnya menjadi landasan sejati kebangkitan sebuah bangsa, baik itu kebangkitan masyarakat arab pra-islam hingga menjadi masyarakat islam maupun masyarakat eropa yang awalnya berada dalam kedelapan hingga akhirnya berhasil bangkit setelah cara pandang/fikrahnya berubah dari yang dogmatis ke rasional.
Pemikiran merupakan kekayaan yang tak ternilai harganya. Darinyalah dihasilkan berbagai kemajuan dan peningkatan taraf kehidupan. Oleh karena itu, kemajuan sains dan teknologi serta penemuan-penemuan baru pada dasarnya adalah hasil dari adanya proses berpikir. Begitu pula meningkatnya taraf kehidupan dan kejayaan ekonomi suatu bangsa tidak lain merupakan hasil dari adanya proses berpikit guna memecahkan problematika kehidupan yang dilakukan secara terus menerus dan menyeluruh. Pemikiran yang menyeluruh ini biasa disebut sebagai akidah, yakni pemikiran tentang hakikat kehidupan dunia, apa-apa yang ada sebelum, dan sesudahnya, serta hubungan ketiganya.
Dengan adanya pemikiran/fikrah, andai pun kekayaan maadiyah (materi) – baik yang berupa kemajuan saintek maupun ekonomi – yang dimiliki itu merosot atau hancur, maka keadaan masyarakat tersebut masih mudah dan dapat dengan cepat dipulihkan kembali selama masyarakat itu masih memegang pemikiran murninya. Sebaliknya, jika pemikiran/fikrahnya telah rusak maka secara berangsur-angsur dan pasti kekayaan maadiyah tadi akan habis dan kehilangan kreatifitas untuk menemukan hal-hal yang baru; kenyataan inilah yang kini sedang dialami oleh masyarakat dunia islam. Ketika fikrah islamnya hilang maka yang terjadi adalah penjajahan, dimana masyarakat islam dijajah oleh fikroh asing seperti kapitalisme-sekuler atau sosialisme-komunis.
Dengan demikian, membangkitkan kembali umat islam – baik dalam konteks Indonesia maupun dunia islam – dari keterpurukannya tidak lain harus dimulai dari KEBANGKITAN FIKRAH; yakni dengan terlebih dulu mengembalikan pemikiran menyeluruh Islam kedalam diri umat. Pemikiran menyeluruh, yakni aqidah Islam inilah yang dahulu telah membangkitkan dan kemudian menghantarkan umat Islam pada puncak kejayaan dunia, baik dari segi politik, ekonomi, ilmu pengetahuan, maupun sosial budaya.
Sungguh, Indonesia telah lama menanti bangkitnya Intelektual Muda Muslim. Indonesia menanti kontribusi para intelektual muda untuk menyelamatkan negeri ini dari gurita kapitalisme, dan membangun negeri ini agar tegak mandiri di atas tanahnya sendiri. Begitu pula dengan dunia islam secara keseluruhan. [red].

No comments:

Post a Comment